Make your own free website on Tripod.com

 

  

          Joint #SP#

 

           

Apresiasi Puisi         Apresiasi Cerpen        Apresiasi Esei          Apresiasi Puisi 2       Apresiasi Cermin            Pers Rilis                  Kajian Sastra

CERMIN - 01

Cerita Mini (Cermin) Sigit Susanto

RAJA

"Kamu keluar dulu, nanti kalau kamu dibunuh oleh pemberontak dengan keris bambu, kamu jangan mau mati."
"Lha kamu yang kurus, jadi dukun santet saja dan jangan lupa bawa tongkat sakti dari kayu kopi."
"Basri, kamu yang gemuk jadi Bagong, pura-pura melucu biar penonton terhibur, tapi harus ikut mengeroyok musuh dan bantu raja, kalau aku nanti turun perang."
"Kamu-kamu yang duduk di situ, pokoknya hanya ada adegan perang dan rebutan kekuasaan kerajaan Toh Pati, semua pemberontak harus kalah dan hanya raja yang menang, mengerti?"

Sebuah rumah papan berjendela kaca di pinggir jalan itu kosong, di situ anak-anak kecil bermain ketoprak, mungkin akibat mereka sering melihat ketoprak keliling. Pohon nangka muda di samping rumah sudah bugil, dicabuti daunnya dan seorang nenek berang melihat anak-anak desa yang nakal. Daun-daun nangka yang masih hijau dan ada yang sudah kekuningan ditusuk lidi seperti sate dan dibuat hiasan melilit di kepala dan kedua lengan tangan serta kaki.

"Kenapa rajanya tidak keluar-keluar, sudah lama aku menunggu di sini sampai lapar;" gerutu sebagian besar penonton berseragam sekolah dasar makin tak sabar sembari desak-desakan mengintip di jendela.

Adegan perkelahian demi perkelahian sudah lewat, dan terus diulang-ulang hingga penonton bosan dan penasaran ingin melihat sang raja.

"Ayo lari ke belakang dulu, ada pancuran yang bisa untuk mencuci wajah kamu semua yang bekas arang hitam bercampur minyak goreng itu."

Kena tipu mereka, sekarang wajah mereka setelah kena air justru tidak hilang, namun seluruh wajahnya hitam kelam, padahal sebelumnya hanya di kumis dan alis sedikit saja, kini di tangan dan lengan jadi hitam, hitam-hitam semua serba hitam, tahu rasa mereka sekarang, perebutan kekuasaan raja akan tetap di tanganku, bukankah hanya wajahku yang putih layak sebagai raja?

Melihat gelagat raja malu keluar pentas, karena penonton terus bertambah, maka seorang tokoh lain dengan cekatan berusaha menenangkan massa dan muncul penggantikan peran raja.

"Akulah raja Tohpati sejati yang dipilih oleh rakyat," sambil berjalan tergesa-gesa.
"Huuuu, huuuu, huuuu, raja kok hitam," celoteh penonton terdepan, "mana ada keturunan priyayi kulitnya tak terawat dan kurus tak berdaging," sela yang lain, "kalau rajanya hitam, lebih baik aku pulang saja, kecewa menunggu sejak tadi."

Di ruang hias balik pintu suasana menjadi tegang, karena penonton menolak raja berkulit hitam, sementara itu para pemain juga saling menyalahkan satu dengan yang lain dan beberapa kali tokoh raja dicoba, tetap saja ditolak oleh penonton, sepertinya penonton sudah punya rumus, kalau raja harus berkulit putih, seperti cerita-cerita kuno kerajaan sungguhan. Ketika para pemain sedang berunding keras dan membujuk sang raja sungguhan agar mau keluar, terdengar suara "Pyar, pyar, pyar" kaca jendela awalnya retak tak
sengaja kena dorong, lalu pecah berkeping-keping dan beberapa penonton terkena goresan serta luka berdarah, sebagian penonton lain merangsek masuk ruang hias dan mencari raja yang seharusnya diperankan untuk tampil. Tapi ruang hias sudah kosong, semua pemain kalang kabut dan panik menghadapi penonton yang mulai liar, pemain-pemain ternyata telah menyeret sang raja dan dibawa ke pancuran untuk dimandikan, bahkan basah kuyup serta tak lupa, wajahnya ditambah polesan arang bahkan tampak lebih hitam dari pemain-pemain lainnya.

"Mana rajanya, mana rajanya," teriak para penonton histeris yang memimpikan seorang raja yang berkulit halus, bertutur sopan dan berdandan mewah. Di depan pancuran bambu, para penonton mengundurkan langkah, tangan-tangan mereka menepuk dadanya sendiri dan tertunduk sedih, ternyata raja yang
mereka impi-impikan lebih hitam dan tampak tak berdaya berlutut di lantai tanah, tubuhnya lunglai menggigil.***

 

HOME

 

 

 

 TOP TEN CERMIN 

 

1. RAJA

Sigit Susanto

 

2. BEBEK SANTET

Saut Situmorang

 

3. MATI LAMPU #3

Pitecantropus Ereksiterus

 

4. AKU BAPAKKU DAN CALON ISTRIKU

Syafrizaldi

 

5. ISTRIKU

Ragil Nugroho

 

6. TENTANG WAKTU

Moyang

 

7. PRESIDEN! KAKUS ITU

Ben Abel

 

8. MUSDI

Narxcis

 

9. KEPUTUSAN

Iwan Sukri

 

10. YANG DITIRIKAN

Nike Nike

(c) Sarabunis Mubarok 2004