Make your own free website on Tripod.com

 

  

          Joint #SP#

 

           

Apresiasi Puisi         Apresiasi Cerpen        Apresiasi Esei          Apresiasi Puisi 2       Apresiasi Cermin            Pers Rilis                  Kajian Sastra

CERMIN - 07

Cerita Mini (Cermin) Ben Abel

PRESIDEN! KAKUS ITU

Di desaku, musim durian rontok bukan saban tahun lagi. Bahkan tidak juga saban datang pemilu. DPR ganti DPD pun tak punya pengaruh. Hanya ketika jamban rahazia umum di ujung barat, di sebalik pohon sang durian, tiba-tiba beralih lokasi ke kakus belakang rumah, nampaklah daun dan ranting seperti kehilangan semangat hidup. Bahkan dulu anjing-anjing desa yang sering bertengkar rebutan jatah produksi abaimana yang nampak bak sosis itu, kini terdengar reda. Karena pusat pembuangan beralih ke lobang terkandang kakus. Ini berarti kesulitan sumber makanan bagi para anjing. Maka itu pencaharian pengisi perut pun berganti ke dalam rumah tuan-tuan pemiara. Dan semenjak itulah terjadi kebiasaan bukan pertengkaran antara anjing lawan anjing lagi, tetapi antara anjing dan tuan-tuannya.

Semua ini gara-gara himbauan Presiden, sang penginspirasi kehidupan teratur bersama birokrasi negara. Jika dulu orang bisa berak disebarang balik pohon besar, khususnya pohon durian, dengan maksud sekalian memberi pupuk langsung, sekarang tradisi demikian itu dinyatakan melanggar hukum kebersihan lingkungan sehat. Dan persoalan baru pun bermunculan. Karena persoalan tanah sempit, sedang tiap rumah wajib mempunyai satu kakus, akhirnya banyak kakus keluarga tak mempunyai tangki septik yang cukup menampung total jenderal produksi abaimana keluarga besar. Keluarga besar 
yang masih tradisional di desa ini biasanya terdiri dari tiga sampai empat generasi sekaligus, dalam satu KeKe. Maksudnya KeKe sama dengan kesatuan keluarga, bukan kepala keluarga seperti istilah program transmigrasi yang dibenci orang kampus. Dengan demikian rata-rata satu rumah berisi hampir seratus orang. Sebab rata-rata satu pasangan mempunyai lima sampai tujuh anak.

Tentu saja hal ini pun menjadi wacana kampanye pilpres mendatang. Salah satu calon dari lain kampus, lain desa, lain warga, membawa tema perlunya kontrol terhadap populasi agar tidak terjadi kerepotan memanajemen ruang tangki septik di masa depan. Maklum negara yang sangat tergantung kepada Bank Dunia ini ikut ditimpa badai krisis berkepanjangan tanpa ada yang bisa mengerti, selain percaya suatu ketika akan datang keajaiban. Yang penting makan minum masih ada. Mungkin lantaran banyak orang kehilangan mata pekerjaan akibat dari krisis multi dimensi dan berkepanjangan ini, apalagi lahan lowong sudah makin sempit, kesempatan menjadi presiden kali ini dilihat seolah sebagai lowongan kerja biasa. Apalagi kali ini untuk menjadi Presiden itu orang dipilih langsung. Maka orang desaku telah beramai-ramai saling berlomba mencalokan diri masing-masing. Jauh sebelum mendaftar ke Ka Pe Uu, mereka yang berminat telah saling adu argumen tentang berbagai hal yang perlu bagi pengaturan masyarakat bangsa ini. 

Karena tidak ada panitia penyeleksi, dan tak seorang pun mengetahui adanya peraturan dan aturan main di Ka Pe Uu. Apalagi diantara mereka tidak seorang pun pernah membaca koran. Begitu berjejalan hendak memasuki halaman gedung Ka Pe Uu, para penguasa Ka Pe Uu sempat terpikir bahwa sedang ada demo lagi terhadap mereka. Jika sebelumnya para pendukung Gus Dur memprotes keputusan tidak memasukkan nama beliau sebagai capres karena keterangan dokter yang menyatakan tidak sehat. Kali ini bagaimana orang-orang berperawakan kerempeng tapi gagah berani penuh otot, bahkan ada yang tak bersepatu sekonyong-konyong hendak memasuki gedung semua. Bikin si Anas jadi cemas.

Syukurlah bapak kepala satpam di gardu depan itu seorang bijak. Sekalipun mantan sersan kopassus, beliau yang sekarang berseragam baju putih celana biru berpeci bak bupati dengan sepatu ket nike ini, menyatakan bahwa kalau hendak mencalokan diri menjadi presiden, harus mengisi buku tamu dulu. Nah, ini membuat orang-orang desa itu saling pandang. Karena ternyata tak seorang pun diantara mereka yang betjus dalam hal menulis, apalagi membaca, pasti. Dengan ramahnya si pak satpam menawarkan diri menulis nama mereka semua di buku tamu. Tetapi salah satu yang tertua membisiki orang-orang, bahwa dahulu ketika tahun 1965, dengan didaftar begitulah bapaknya kemudian dituduh PKI. Maka tak seorang pun akhirnya bersedia dicatat namanya. Tiba-tiba salah seorang yang nampak tergagah, berperangai keras. Maju ke depan lalu menyampaikan : Presiden! Kakus itu. Katanya sembari menunjuk ke arah desanya disebelah belaakaaaaaannnggggan sana.

Dasar orang desa, semua kejadian ini bukan persoalan besar. Masih saja kakuslah yang jadi persoalan mereka. Toh dengan segala daya upaya dan kreatifitas terus bertahan hidup sebagai manusia yang berakal dan berbudi saja. Berkeluh kesah sambil terus bertahan hidup berupaya. Limbas tinja malah disedot dan diekspor ke Jepang dan Cina. Karena disana disana akan dijadikan bahan pupuk ekpor ke Amerika. Begitulah konsekwensi menjadi warganegara yang setia, sekaligus manusia. Orang sudah lupa tradisi jamban di bawah pohon durian dahulu. Bahkan kata jamban pun sudah menghilang, 
menjadi kakus. Sampai presiden pun, kakus itu.

[ben abel, Juni 2004]

 

 

HOME

 

 

 TOP TEN CERMIN 

 

1. RAJA

Sigit Susanto

 

2. BEBEK SANTET

Saut Situmorang

 

3. MATI LAMPU #3

Pitecantropus Ereksiterus

 

4. AKU BAPAKKU DAN CALON ISTRIKU

Syafrizaldi

 

5. ISTRIKU

Ragil Nugroho

 

6. TENTANG WAKTU

Moyang

 

7. PRESIDEN! KAKUS ITU

Ben Abel

 

8. MUSDI

Narxcis

 

9. KEPUTUSAN

Iwan Sukri

 

10. YANG DITIRIKAN

Nike Nike

(c) Sarabunis Mubarok 2004