Make your own free website on Tripod.com

 

  

          Joint #SP#

 

           

Apresiasi Puisi         Apresiasi Cerpen        Apresiasi Esei          Apresiasi Puisi 2       Apresiasi Cermin            Pers Rilis                  Kajian Sastra

CERMIN - 08

Cerita Mini (Cermin) Narxcis

MUSDI

(1) Serampangan melangkah pemuda tanggung dengan celana pendek birunya, mengukir catatan di jalan-jalan menghapal kalimat dari gambar-gambar yang digantung sejajar dengan impian. (2) Musdi namanya hobi tawuran, entah berapa puluh orang sebayanya yang jadi korban entah di palak, di pukuli atau juga ada yang di sodomi. (3) Musdi bagai raja trotoar yang hidup sendiri sejak bayi di tinggal ayah, ibu kawin lagi sebelum melacur di rumah karoke sebelah mesjid Gang Kuburan. 

(4) Pernah sesekali Musdi tertangkap basah sedang ngelem aibon di atas jembatan, waktu itu pas ada pembersihan gelandangan, "Ditertibkan!" katanya. (5) Musdi dibawa ke Polsek Jembatan Layang dekat rumah judi, di sana dia diinterogasi, ditanya gono gini, katanya semua anak-anak jalanan akan di 
alokasikan ke rumah perlindungan, di beri pakaian dan makanan.(6) Setelah 1 minggu Musdi di bebaskan, janji rumah perlindungan cuma omongan, dengan bangga Musdi kembali ke jalan, mengamen dengan teman-teman yang dikenalnya sewaktu habiskan 7 malam di rumah tahanan. 

(7) Suatu malam di perempatan jalan, "Hey Musdi, sini! Bapak mau bicara sebentar." Dari kejauhan seorang lelaki setengah tua sambil melambaikan tangan. (8) Musdi clingukan, mencari asal suara dan akhirnya, "Ada apa pak Sumir? tumben" tanya Musdi sedikit agak bingung. 

(9) Ternyata Pak Sumir, kenalannya yang berprofesi sebagai tukang cukur. (10)Sambil merangkul bahu Musdi pak Sumir berbisik ke telinga Musdi, "Begini Di, kamu mau bapak kasih duit gak? lumayan lah daripada ngamen malem-malem begini.." (10) "Duit? berapa? untuk apa?" (tanya Musdi masih dengan 
tampang bingung) (11) "Temani Bapak malem ini, karena bapak sendirian, adik dan ipar pergi ke Surabaya, mau ya Di?! daripada kamu tidur di jalan di sapu Pamong Praja nanti masuk sel lagi." (12) "Hmm, Boleh pak, tapi saya laper nih, beliin makan dulu dong pak!" Kata Musdi disambut mata berbinar dari Pak Sumir sambil berkata, "tenang, nanti kita beli nasi di warung Yuk Marisini.. Oke!" 

(13) Berselang satu jam, mereka berdua sampai di kontrakan Pak Sumir di bilangan Kali dekat pabrik maenan, "Kamu santai-santai saja Di, Kalo mau nonton TV silakan, kalo mau langsung tidur juga silakan! Bapak mau mandi dulu. Oh ya, jangan lupa nanti kamu ganti baju ya, nih pake sarung ini biar tak digigit nyamuk!" Pak Sumir berkata dari balik tirai bergambar seorang lelaki kekar dengan tato LOVE (hati) di dadanya. 

(14) Jam 11 lebih 25, Musdi terlihat mulai mengantuk, dan langsung meringkukkan badannya di depan Televisi, diam-diam Pak Sumir mengamatinya. (15) Musdi terlihat lelap, sesekali menggaruk mukanya akibat gigitan nyamuk, pelan-pelan Pak Sumir mengampiri dirinya sambil menepuk-nepuk kaki dan 
muka Musdi, kira-kira 8 menit sebelum Musdi kaget dan terbangun lalu mendorong tangan Pak Sumir yang menempel di badannya. "apa-apaan si pak!?" 

(16) "Ayolah di, kaya nggak tau ajah... tolong Bapak" dengan senyum mupeng merayu Musdi. "Apa-apaan, saya nggak mau, kalo Bapak memaksa, saya akan teriak." Jawab musdi kesal. (17) Pak Sumir bingung, pusing tak karuan, dia menuju ke dapur sambil mengacak-ngacak kepalanya di melihat ke sebilah pisau yang tergeletak di atas meja makan, sambil bergumam diambilnya pisau tadi, "Pokoknya harus mau... ya, dia harus mau, harus! kalo tidak, Awas saja dia!!." 

(18) Musdi terkejut, dia ketakutan melihat Pak Sumir dengan pisau di tangan kirinya, "Ampun pak! ampun! Jangan bunuh saya..." kata Musdi lirih, "Baik, aku takkan membunuhmu kalo kau mau menolongku! sekarang!" Teriak pak Sumir dengan amarah dan pusing yang makin menggila. "Saya tidak bisa pak, saya tak mau pak... saya tidak bisa." nampak titik airmata jatuh di belahan pipi Musdi. (19) "Nanti aku yang ajarkan, yang penting kau mau apa tidak?" Raut mukanya makin garang pisau masih tergenggam di lengan kirinya, "Iya, baik saya mau pak tapi...", "Tapi apa?" desak pak Sumir. "saya belum cuci tangan..." "Ya sudah, cuci tangan dulu sana, sekalian bawa minyak yang di dekat kompor! dan jangan pernah berpikir untuk lari! Awas!" lanjut Pak Sumir. 

(20) Musdi kembali dari WC sambil membawa minyak lalu menyerahkannya ke pak Sumir, kemudian "Nih pake Koin Gobangan aja, biar nggak terlalu sakit! Cepetaaaan!" "Iya pak.." Kata Musdi. "Coba kalo dari tadi kamu mau, bapak kan nggak perlu pake bawa-bawa pisau segala. Kerok yang rata ya!... 
Whooaea (pak Sumir sendawa).. Tuh kan anginnya keluar.. "kerasan dikit Di, kaya nggak punya tenaga aja kamu."*** 

 

HOME

 

 

 TOP TEN CERMIN 

 

1. RAJA

Sigit Susanto

 

2. BEBEK SANTET

Saut Situmorang

 

3. MATI LAMPU #3

Pitecantropus Ereksiterus

 

4. AKU BAPAKKU DAN CALON ISTRIKU

Syafrizaldi

 

5. ISTRIKU

Ragil Nugroho

 

6. TENTANG WAKTU

Moyang

 

7. PRESIDEN! KAKUS ITU

Ben Abel

 

8. MUSDI

Narxcis

 

9. KEPUTUSAN

Iwan Sukri

 

10. YANG DITIRIKAN

Nike Nike

(c) Sarabunis Mubarok 2004