Make your own free website on Tripod.com

 

  

          Joint #SP#

 

           

Apresiasi Puisi         Apresiasi Cerpen        Apresiasi Esei          Apresiasi Puisi 2       Apresiasi Cermin            Pers Rilis                  Kajian Sastra

CERMIN - 09

Cerita Mini (Cermin) Iwan Sukri

KEPUTUSAN

Umurnya masih muda. Belum cukup 23 tahun. Temparemennya cukup simpatik. Wajah yang kekanakan. Dan ideal setiap gadis. Kini dia duduk di kursi tempat belajarnya. Hanya tampak guratan wajahnya yang menjadi tigapuluhan. Diam dan tampak kusut. Mungkin seribu gadis takkan mau diajaknya kencan dalam keadaan begitu. Dia sedang menentukan pilihan. Di meja belajar, antara tumpukan buku yang semrawut, terdapat segelas larutan arsenik. Lantas di sampingnya tergeletak Colt 45. Tak berapa jauh dari situ, tergantung selang ke atas kuda-kuda bangunan kamarnya bagaikan lasso-lasson cowboy Amerika. Dan di tangannya tergenggam pisau komando. Semua itu memang telah dipersiapkannya. Dia yakin, lewat bunuh dirilah maka akan selesai segala persoalan yang menyengkram benaknya. Setidaknya, Anie tidak perlu lagi menanyakan jalan keluar atas kehamilannya yang semakin membesar juga. Setidaknya tak usah dia mengajak Anie ke dokter untuk menggugurkan bayi yang dikandungnya. Setidaknya dia tak ingin nanti Anie akan menderita sekiranya pernikahan yang tanpa restu itu terjadi. Tidakk. Teriak kelaki-lakiannya. Dia berdiri. Dia lemparkan pisau komando, tepat jatuh menancap di kaki pintu keluar. Lantas ditunggangkannya gelas larutan arsenik itu. Lantas disimpannya kembali Colt 45 milik paman agus. Dan dihancurkannya meja belajar dengan sekali pukul, sehingga porak poranda. Dan ditariknya selang dari gantungannya. Kenapa dia musti takut? Papa tidak akan memberinya uang? Biarlah. Bukankah dia sudah cukup dewasa. Ayah Anie jelas tidak menyukainya. Biarlah, bukankah dalam buku-buku novel banyak cerita semacam begini. Kenyataannya banyak pasangan yang sukses. Kenapa dia musti takut? Kenapa? Tapi..Ohhhh. Kepalanya seakan berputar-putar. Dan. Oh. Telapak tangannya lecet terluka ketika meninju meja tadi. Dan. Ya. Ya. Dia ingat, arsenik itu ditumpahkannya ke meja tadi. Dan lecet lukanya itu cukup lebar. Anieee...! Teriaknya menggaung. Dia pun rubuh. 

Cimahi, April -1979 

 

HOME

 

 

 TOP TEN CERMIN 

 

1. RAJA

Sigit Susanto

 

2. BEBEK SANTET

Saut Situmorang

 

3. MATI LAMPU #3

Pitecantropus Ereksiterus

 

4. AKU BAPAKKU DAN CALON ISTRIKU

Syafrizaldi

 

5. ISTRIKU

Ragil Nugroho

 

6. TENTANG WAKTU

Moyang

 

7. PRESIDEN! KAKUS ITU

Ben Abel

 

8. MUSDI

Narxcis

 

9. KEPUTUSAN

Iwan Sukri

 

10. YANG DITIRIKAN

Nike Nike

(c) Sarabunis Mubarok 2004