Make your own free website on Tripod.com

 

  

          Joint #SP#

 

           

Apresiasi Puisi         Apresiasi Cerpen        Apresiasi Esei          Apresiasi Puisi 2       Apresiasi Cermin            Pers Rilis                  Kajian Sastra

SEPUTAR POSTING MILIS SP

Karya Sajak Yang Baik Tidak Membutuhkan Pembelaan
Oleh Titon Rahmawan

Sajak yang baik adalah sajak yang mampu berdialog dengan pembacanya, yaitu sajak  yang sanggup meninggalkan kesan di dalam diri kita begitu kita selesai membacanya, apakah itu berupa sebuah pemikiran, perasaan terharu, sedih gembira,  atau ungkapan perasaan lainnya. Dengan kata lain sajak sebagai sebuah struktur yang otonom sanggup menciptakan impresi secara langsung kepada pembacanya tanpa memerlukan perantaraan orang lain untuk membantu memberikan penjelasan lebih lanjut.

Sebenarnya tidak diperlukan orang lain untuk meraih pemaknaan atas sebuah sajak, apakah itu bantuan seorang kritikus atau pun juga penyairnya sendiri, karena sajak adalah sebuah teks yang merdeka untuk ditafsirkan karena setiap sajak memiliki dimensi yang begitu kaya. Itulah esensi sebenarnya dari sebuah sajak dimana letak baik dan buruknya semata-mata dapat dipahami dari seluruh tubuh sajak itu sendiri sebagai obyek pembacaan. Bahkan sebuah parafrase tidak dapat diterima sabagai pengganti eksistensi sebuah sajak karena parafrase dibuat semata-mata untuk menyingkap tabir di balik sajak tapi dia bukanlah sajak itu sendiri.

Dalam hal ini pandangan yag menyatakan bahwa penyair mati setelah sebuah sajak selesai ditulis dan kemudian dipublikasikan memperoleh titik temunya. Begitu sajak selesai ditulis dan dirilis ke publik ia
telah sah menjadi obyek sebuah penilaian, dengan kata lain si penyair telah merelakan anak kandungnya itu masuk ke dalam dunia apresiasi yang seringkali kejam dan tidak berperasaan. Sebuah realitas yang
barangkali tidak disadari oleh   mereka yang baru mulai menulis dan ingin menjadi penyair.

Segala pendekatan kritik terhadap sajak yang menghasilkan sebuah penilaian yang positif atau pun negatif harus dilihat sebagai sebuah perspektif pembacaan, dari sekian banyak perspektif yang mungkin,
karena itu saya menilai segala bentuk pembelaan oleh seorang penyair atas karyanya yang dipublikasikan perlu dicurigai sebagai bentuk mencari pembenaran diri sendiri dan membuat karya itu semakin jauh dari kebenaran universal. Bagaimanapun apresiasi adalah hak pembaca sepenuhnya dan segala bentuk intrepretasi lewat tulisan kritik boleh dipandang sebagai suatu bentuk opini. Sejauh ini telah berlaku konvensi dikalangan para penulis dimana pun untuk menghindarkan diri mengkritisi karya sendiri untuk menjamin obyektivitas, karena itu saya yakin segala bentuk pembicaraan atas sebuah sajak oleh penyairnya sendiri pasti cenderung menjadi sebuah pembelaan, penyair bisa terpeleset untuk memalsukan realitas karyanya, dan  pembaca akan menilai hal itu sebagai sebuah usaha yang sia-sia. Apresiasi sekali lagi adalah hak pembaca sepenuhnya, dan tentu saja buat para penulis yang berkeberatan untuk dikritisi sebaiknya mereka menyimpan karya-karyanya itu dalam laci yang terkunci rapat agar tidak ada orang yang bisa menilai.
 
Sesungguhnya pula karya yang baik sama sekali tidak membutuhkan pembelaan karena ia mampu secara obyektif menunjukkan kualitasnya, ia mampu memancarkan cahayanya sendiri sekali pun kritik datang bertubi-tubi, ia akan tetap bersinar memancarkan keindahannya karena karyayang baik selalu mengandung kebenaran universal itu, dan siapa yang sanggup membungkam kebenaran?

Akan tetapi kita mesti waspada terhadap kritik, baik saat melancarkan kritik atau pun dalam menerima kritik karena pisau kritik memiliki dua mata, tidak semua kritik dapat diterima sebagai sebuah tinjauan yang bermutu atau memberikan gambaran apresiasi yang tepat, bahkan kritik bisa dipakai pula sebagai ajang untuk menunjukkan rasa suka dan tidak suka yang bisa berujung pada perdebatan tiada putusnya yang justru akan membuat pembaca menjadi muak karenanya.

Barangkali kenyataan di atas terasa berlebihan akan tetapi polemik seputar pertentangan itu bukanlah barang baru dikalangan penulis. Jadi apa yang bisa dipakai sebagai pegangan oleh pembaca adalah
mengembalikan pertentangan itu pada esensi dari karya itu sendiri. Pembaca akan memperoleh lentik cahaya kebenaran dari setiap karya yang baik, jadi sesungguhnya seorang penyair yang baik tidak perlu
mengkhawatirkan nasib sajak-sajaknya, bila karya-karya itu sungguh bernilai pastilah ia mampu dan sanggup bertahan dari terpaan kritik yang bagaimana pun derasnya dan kritik sebagai sebuah wacana berpikir tetaplah diperlukan untuk mengantarkan pembaca ke depan pintu apresiasi tanpa harus mencampuri keberadaan teks itu sendiri sebagai sebuah struktur yang otonom karena sebuah kritik adalah sebuah karya sastra juga yang memiliki peluang yang sama terbukanya untuk terus diuji dan diuji kembali.

Justru kritik lahir setelah diilhami sebuah karya dan kritik berperan untuk menyodorkan sebuah alternatif pendekatan atas keberadaan sebuah teks, dari sekian banyak alternatif yang mungkin. Diterima atau
tidaknya penafsiran itu juga berpulang kepada pembaca karya itu sendiri, kesan apa pun yang muncul oleh sebuah kritik pastilah bukan merupakan sebuah hasil apresiasi yang final, dan pembaca tentu saja
memiliki hak penuh untuk menilai dan  memperbandingkan tawaran-tawaran itu kembali, demikianlah proses sebuah apresiasi yang wajar atas sebuah sajak mau pun karya sastra lainnya.

Februari 2004.

 

 

HOME

 

(c) Sarabunis Mubarok 2004