Make your own free website on Tripod.com

 

  

          Joint #SP#

 

           

Apresiasi Puisi         Apresiasi Cerpen        Apresiasi Esei          Apresiasi Puisi 2       Apresiasi Cermin            Pers Rilis                  Kajian Sastra

SEPUTAR POSTING MILIS SP

Salahkah Bila Seorang Penyair Membela Karyanya?
Oleh Setiyo Bardono

Ketika penilaian baik buruknya sebuah sajak masih sangat relatif dan bisa diperdebatkan, ada sebuah pertanyaan yang menyelinap dalam benak saya: "Salahkah bila seorang penyair membela karyanya?"
Pertanyaan ini timbul ketika saya membaca tulisan saudara Titon Rahmawan berjudul "Karya Sajak Yang Baik Tidak Membutuhkan Pembelaan". Dalam tulisan tersebut, Titon Rahmawan menilai bahwa "...segala bentuk pembelaan oleh seorang penyair atas karyanya yang dipublikasikan perlu dicurigai sebagai bentuk pembenaran diri sendiri dan membuat karya itu semakin jauh dari kebenaran universal". 

Ketika sebuah sajak dilahirkan dengan berdarah-berdarah, sampai penyair menyadari bahwa anak kandungnya sudah cukup mampu untuk dilepas dalam lingkungan masyarakat pembaca agar bisa menjalani sebuah kehidupan yang merdeka dan dewasa, salahkah bila penyair sebagai orang tuanya selalu mengawasi setiap gerak-gerik anak kandungnya dan melontarkan sedikit pembelaan ketika ada semacam apresiasi atau tuduhan yang sama sekali tidak mendasar karena bagaimanapun juga masyarakat pembaca mempunyai sifat, perilaku dan pandangan yang berbeda-beda. Ketika melepas anak kandung, sebagai orang tua saya menyadari bahwa kenyataan di dunia apresiasi terkadang sangat kejam dan tidak berperasaan. Tentu saja orang tua tidak ingin anak kandungnya pulang dengan terisak, walaupun tangisan anak bisa menjadi media pembelajaran bagi orang tuanya.

Ketika sebuah sajak dicurigai, ketika acara pembacaan puisi dihentikan dan dilarang secara semena-mena oleh sebuah rezim, salahkah bila penyair tersebut membela karyanya? Apakah kita juga akan semena-mena menuduh dan mencurigai pembelaan penyair tersebut telah membuat karyanya jauh dari kebenaran universal. 

Bagaimanapun juga kita harus menyadari bahwa apresiasi pemerintah dan masyarakat terhadap sajak dan karya sastra lainnya masih sangat kurang. Untuk itu menurut saya, keberanian seseorang untuk menulis sebuah sajak dan kemudian melepaskannya ke dunia apresiasi, sangat membutuhkan dukungan dan mungkin pembelaan, kalaupun ada kritik terhadap karya tersebut mungkin sebaiknya disampaikan sebagai upaya untuk membangun ke arah yang lebih baik dengan argumen yang sangat mendasar dan bisa diterima, bukan apresiasi yang asal-asalan yang pada akhirnya mematikan semangat penulis tersebut dan pada akhirnya mengersangkan dunia penulisan itu sendiri.

Bagaimanapun juga, seorang yang menulis sajak (kalau mau dibedakan antara penyair dan orang yang ingin menjadi penyair) tentu sudah memperhitungkan baik-buruk karyanya untuk dilepaskan di dunia 
apresiasi. Mungkin saja sajak itu tidak mampu berdialog dan tidak bisa memberi kesan dalam diri pembaca, tapi bila sajak tersebut telah mampu menjadi sebuah pintu apresiasi bagi penulisnya untuk merespon keadaan yang sedang menimpanya, saya kira itu sudah bisa disebut sajak yang baik, setidaknya untuk penyaluran emosi penulis tersebut. Tulisan ini tidak bermaksud untuk membatasi kebebasan apresiasi yang telah menjadi hak pembaca sepenuhnya. Tapi sebagai pembaca kita juga 
harus menyadari dan menghargai tingkat kemampuan penyair dalam menuliskan. Sebagai pembaca kita tidak bisa menuntut setiap sajak harus mampu berdialog dan meninggalkan kesan dalam diri kita. Kita 
juga harus berusaha sekuat kemampuan kita untuk berdialog dengan sajak tersebut. Sebagai pembaca kita juga harus menyadari keterbatasan kita sebagaimana seorang penyair menyadari keterbatasannya. 

Dalam kondisi yang bisa saling menghargai dan memahami antara penyair dan pembacanya, antara sajak dan dunia apresiasi, maka kehidupan dunia sastra kita akan semakin semarak dan penuh warna, serta memberi keteduhan bagi jiwa-jiwa yang gersang dan haus akan pencarian makna. Untuk itu sangat tidak arif, apabila kita sebagai pembaca dan pengkritik karya memberikan gambaran tentang dunia apresiasi yang sangat kejam dan tidak bersahabat, kemudian memasang tampang galak dan sangar hingga menakutkan sampai penulis terpaksa menyimpan rapat-rapat karyanya dalam laci yang terkunci rapat. 

Sekali lagi tidak semua pembaca bisa dewasa membaca sebuah karya, sebagaimana tidak semua penulis dewasa dalam menuliskan karyanya. Bahkan dari sebuah pembelaan penyair atas karyanya, kita sebagai 
pembaca barangkali bisa belajar untuk memahami dan menghargai latar belakang yang menyebabkan penyair melahirkan karyanya. Dari keadaan seperti itu, apresiasi pembaca bisa menjadi pupuk yang menyuburkan benih kepenyairan seorang penulis dan bukan sebagai racun yang mematikan. 

Menulis sebuah sajak adalah sebuah pilihan yang sangat berat terutama bagi orang yang berada dalam lingkungan yang sama sekali tidak mendukung. Maka ketika seseorang telah menemukan kedamaian dalam sajaknya dan ingin berbagai kedamaian dengan orang lain, maka pembaca dalam dunia apresiasi harus bisa menjadi tuan rumah yang arif dan bijaksana. Jangan sampai seorang penulis bertanya-tanya dalam hatinya: "Ini apresiasi atau upaya penjegalan...."

Kekupu Raja, 3 Juli 2004

 

 

HOME

 

(c) Sarabunis Mubarok 2004