Make your own free website on Tripod.com

 

  

          Joint #SP#

 

           

Apresiasi Puisi         Apresiasi Cerpen        Apresiasi Esei          Apresiasi Puisi 2       Apresiasi Cermin            Pers Rilis                  Kajian Sastra

SEPUTAR POSTING MILIS SP

Dari Leningrad ke Moskow
Oleh Sigit Susanto

NYAKOBO, tertulis besar di badan pesawat Rusia bernomor FV 294. Pesawat tersebut membawa kami (aku dan istri) tanggal 6 Juni 2004 dari Swiss ke kota Leningrad atau Petrograd, sekarang lebih dikenal dengan sebutan Saint Petersburg. Dari lapangan terbang St.Petersburg kami langsung diantar ke sebuah kapal yang sedang diparkir di pinggir sungai Newa. Dari sungai Newa ini perjalanan dimulai dengan menyusuri sungai dan memasuki empat danau; danau Ladoga, danau Onega, danau Putih dan danau Rybinsker. Kapal bergerak lamban dan melawan arus menuju Moskow. Perjalanan selama 9 hari di atas air ini menempuh jarak 1918 kilometer. Tentu saja kapal yang mengangkut 161 pelancong dari berbagai bangsa itu singgah di beberapa pelabuhan sungai. Di situ para pelancong mengunjungi keunikan daerah-daerah yang disinggahi. Sekitar 16 bendungan pintu besi dilalui. Karena kedua permukaan air sungai tidak sama. Sehingga kapal harus bersarang dulu di tengah pintu besi besar. Setelah sirkulasi air dibuka dan permukaan air sungai sama rata dengan yang akan dilewati. Kapal baru bisa merangkak pergi. Sungguh menarik menyaksikan dari dekat. Kadang kapal panjang dan besar itu terasa turun atau naik perlahan antara 8 sampai 12 meter. 

St.Petersburg

Awan bersih menyapu kota St.Petersburg. Kulihat ada patung dari metal warna gelap berdiri di tengah taman. Patung manusia-manusia kurus itu sedang bergerombol. Juga kutemukan ada patung Puschkin sendirian. Taman-taman masih alami, tak tersentuh tangan modernitas. Setelah tiba di kapal, kami ketahui kalau kamar kami di kabin nomor 203 kecil saja. Tapi jendela kaca besar. Belakangan kami baca, kalau kapal itu buatan DDR (Bekas Jerman Timur) 20 tahun silam. Kapal warna putih itu bernama Surkov, diambilkan dari nama seorang penyair Rusia. Sedang di belakang kapal kami ada kapal lain dengan nama: Fyodor Dostoyevsky. 

Setelah istirahat sejenak, para penumpang dijamu di Sky Bar pada dek paling atas. Dari sini kami lihat jembatan panjang memotong sungai Newa yang lebar. Gedung-gedung tinggi terletak di seberang sungai. Meskipun waktu makin melaju, tapi awan di langit masih menggantung terang. Ada selebaran kertas informasi, kalau matahari baru akan terbenam pukul 23.14 dan terbit lagi pukul 04.43. Perlahan kami sadari kalau tempat ini tak jauh dari negeri Skandinavia serta kutub utara. Yang kadang pada bulan-bulan tertentu tak punya malam sama sekali atau sebaliknya tak punya siang. Di balik kapal aku saksikan sebuah pelangi setengah lingkaran. Kedua ujungnya menancap di perkotaan, sedang di bawahnya mengalir sungai Newa. Mirip sebuah jembatan melengkung warna-warni. Malam yang seperti siang itu kami tidur membujur di dipan kasur kecil.



Esok harinya setelah sarapan pagi, kami bergegas keluar kapal dan ikut rombongan lain berangkat dengan bis ke kota St.Petersburg. 

„Namaku Olga, bertugas memandu Anda semua selama dalam perjalanan,“ sambut seorang ibu tua berjaket merah.

Olga mulai bercerita, kalau St.Petersburg merupakan kota terbesar kedua di Rusia setelah Moskow. Menurut sejarah kaisar Peter I (1682-1725), belakangan mendapat nama Peter Agung mengagumi kota Amsterdam yang banyak sungai dan bangunan kuno. Maka dia ingin membuat duplikatnya, sehingga dia impikan St.Petersburg bagaikan jendela ke Eropa. Nama aslinya dari bahasa Belanda „Pieterburgh“. Nama St.Petersburg sendiri dalam bahasa Rusia artinya „Petrograd“, nama kota tersebut bertahan hingga tahun 1914. Tahun 1924 Lenin meninggal dan untuk menghormati nama besar Lenin, maka kota tersebut diganti nama „Leningrad“. Sejak tahun 1991 nama kota kembali ke asalnya Saint Petersburg. Sedang orang Rusia menyebutnya tanpa s: Saint Peterburg. Ketika bis rombongan sudah memasuki kota dan siap turun dari bis, Olga memberitahukan, kalau di seberang jalan sebelah kiri terdapat makam Alexander Puschkin dan Dostojewski. Kemudian rombongan berjalan ke sebuah monumen dan benteng di pinggir sungai. Beberapa anak muda menjual topi tentara Rusia warna hijau tua. Topi dan pet tentara itu terdapat gantungan banyak bros kecil. Beberapa bros bermotif kepala Lenin dan gambar palu arit merah serta lambang burung elang berkepala dua warna keemasan. Dari sini rombongan melanjutkan menuju sebuah kathedral Peter berarsitektur Barok. Sebuah bangunan megah warna kuning. Di dalamnya terdapat 32 makam para raja yang terbuat dari marmer putih. Ornamen di dalam kathedral tersebut terkesan mewah serba kuning kemilau dan bersih. Lantai dan dinding semua dari marmer. Sejenak terbersit dalam pikiranku, beginilah cara para raja mencari tambahan kekuasaan dan penghormatan baru. Pertama, rakyat dibuatkan gereja yang megah untuk menyembah Tuhan. Kedua, makam raja-raja diletakkan di dalam gereja. Tentu tidak terlalu sulit untuk memparalelkan penghormatan rakyat kepada Tuhan, kemudian kepada raja. Raja membonceng kekuasaan Tuhan. Kalau rakyat takut pada Tuhan, tentu mudah akan takut pada raja. Bukankah Tuhan dan raja tempatnya sama di gereja?

Rumah Dostojewski

Lalu bis menuju sebuah gereja Orthodox. Arsitekturnya sungguh memukau. Kubahnya kecil-kecil bundar warna-warni seperti istana orientalis dalam cerita 1001 malam. Di depan gereja kami memisahkan diri dari rombongan. Kami bermaksud ingin mencari rumah Dostojewski. Ketika kami berjalan beberapa meter, tiba-tiba aku terasa ingin kencing. Aku nekat saja masuk sebuah rumah makan dan di dalam aku harus antre ke WC. Baru aku tahu, betapa sabar orang Rusia. Setelah itu kami berjalan menyusuri pertokoan di jalan besar Newski-Prospekt. Di pinggir jalan ada toko buku besar pada bangunan bertingkat tiga. Buku-buku sastra keluaran Wordsworth Classics dijual 100 Rubel (Sekitar Rp33.000) per buku. Dibandingkan dengan harga buku di Swiss, hampir sepertiganya lebih murah. Ingat mata uang Rubel, aku jadi ingat Gorki kecil dalam salah satu Trilogi Biografinya berjudul Masa Kecilku. Dia pernah dijuluki maling oleh kawan-kawan sekolahnya, karena dia mencuri uang dari ibunya sebesar 1 Rubel untuk membeli buku Robinson. Keluar dari toko buku, kami segera membuka-buka peta lagi dan menemukan jalan Dostoevskaja. Untuk mencapai Dostoevsky Memorial Museum itu, Olga pernah berpesan agar naik Metro (Kereta Bawah Tanah) menuju stasiun Vladimirskaja, dari situ hanya dua menit. Tapi kami putuskan untuk jalan kaki saja, sambil menikmati suasana kota. Jalan besar itu cukup ramai orang. Aku perhatikan banyak orang Rusia bermata abu-abu mendekati kebiruan, juga sebagian bermata kehijauan. Mereka berjalan tidak tergesa-gesa seperti orang Eropa barat pada umumnya. Raut muka mereka kelihatan tenang dan tak menandakan ketegangan. Dari belakang aku ditepuk seorang perempuan. Ketika aku toleh ternyata cewek itu memberitahu, kalau ranselku terbuka. Sekali-kali aku lihat lagi peta untuk meyakinkan. Aku baca ada jalan bernama Proletarskaja. Serta ada patung baru Gogol di jalan Malaja Konuschennaja. Setelah kami membelok kanan dari jalan besar, di pinggir jalan ada hotel Dostoevsky. Tak jauh dari situ aku temukan gedung besar bernomor 5 dan di dinding terdapat sebuah relief dari metal wajah Dostojewski. Pintu masuknya menjorok ke bawah. Ternyata aku belum beruntung, museum itu tutup tiap hari Senin. Kebetulan hari itu juga hari Senin. Sebetulnya aku ingin melihat lebih dekat tentang kehidupan dan karyanya. Menurut buku Colibri disebutkan, bahwa Dostojewski punya keunikan berpindah apartemen setiap selesai membuat karya. Terhitung sudah 20 kali dia berpindah apartemen. Karena di tempat baru itu dia mengadakan pengamatan pada lingkungan. Dan setelah dia menemukan tokoh cerita dan jadi tulisan, maka dia pindah ke tempat baru lainnya. Penulis buku Kejahatan dan Hukuman dengan tokohnya Raskolnikov ini mengambil setting di St.Petersburg. Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku hanya memandangi sepertinya depan rumah itu ada pasar ikan. Banyak rak kosong habis dibersihkan dengan air. Beberapa laki-laki muda berambut hitam berdiri di luar pasar dan saling berbicara. Di samping kanan rumah Dostojewski terdapat trotoar yang banyak orang lalu lalang. Di trotoar tersebut aku lihat banyak orang-orang tua menjual susu dalam botol. Ada ibu-ibu yang menjual telur ayam beberapa biji, sayur, kentang, bunga dan BH. Mungkin mereka orang-orang miskin kota. Pakaian mereka sederhana dan tampak sopan menawarkan dagangannya pada setiap orang yang lewat. Sementara itu di seberang jalan tampak ada sejenis pasar loak kecil. Aku berhenti pada ibu tua yang menjual bros kuno. Tiga bros kecil warna metalik bergambar Lenin aku beli seharga 120 Rubel. Ibu itu mengangguk-anguk gembira. Malam mempertahankan ciri kesoreannya dan kaki sudah mulai pegal menjelajahi jalan beraspal. Kami mendatangi sebuah gedung pertunjukan theater yang sudah dijanjikan Olga. Tak lama lagi bis rombongan dari kapal datang dengan orang-orang yang berpakaian rapi berdasi. Aku toleh sepatuku olah raga warna putih, bajuku pun berkeringat kurang sedap. Setelah mendapatkan tiket dari Olga, aku dapat tempat duduk pada deretan kedua dari depan, sedang istriku di kursi belakang. Bagiku lebih mudah mengamati adegan balet. Antara panggung dan kursi penonton terdapat rombongan orkes yang lebih rendah posisinya. Layarpun segera digulung, mirip layar ketoprak di desaku dulu. Namun ketika penari balet muncul dan mulai bergerak membuat aku kagum. Ujung-ujung kaki meruncing menyangga tubuh langsing. Penari-penari yang sudah berkulit putih masih dibungkus bedak putih lagi. Tampak seperti mumi meliuk-liuk di panggung. Aku hanya kagum pada kelincahan gerak dan keterampilan pentas pemainnya. Sebaliknya aku tak merasa nyaman pada suasananya dengan para penonton yang terkesan glamour dan formal. Menjelang tengah malam kami bergabung dengan rombongan bis dan kembali ke kapal .

Istana Musim Panas dan Musim Dingin

Pada hari ketiga kami mengikuti rombongan menuju dua tempat yang sangat bersejarah. Dua istana yang ditempati para zar (Dari bahasa Latin Caisar). Pertama, ke istana musim panas yang sering dikenal dengan sebutan: Taman Peter (Peterhof). Dan kedua, mengunjungi istana musim dingin yang terdapat sebuah bangunan Erimitage, berasal dari bahasa Prancis yang berarti pertapaan. Bis melaju dengan cepat dan keluar dari kota St.Petersburg ke arah barat sekitar 29 kilometer. Di depan pintu istana musim panas, rombongan disambut dengan sekelompok pemusik yang berpakaian ala aristokrat barat. Mereka berbaju merah tua, hijau dan biru dari kain beludru serta rambut palsunya ikal warna pirang dan coklat. Kelompok musik yang hanya beberapa gelintir orang ini meniupkan terompet, akordeon dan drum band. Iramanya meliuk-liuk dan beberapa pelancong melemparkan uang kecil ke kotak yang tersedia. Aku sendiri tak bisa mengingat lagi, iramanya seperti apa. Namun ketika tulisan ini sedang dibuat, seorang kawan di Jakarta yang pernah ke tempat ini meyakinkan, kalau iramanya musik itu persis lagu Indonesia Raya.

Ketika akan memasuki ruangan, setiap pengunjung diharuskan memakai sepatu khusus yang ringan dari bahan halus. Memang benar, lantai istana itu terbuat dari kayu yang berornamen berbagai motif, bak mosaik yang rumit. Dari ruang ke ruang, aku amati betapa banyak ornamen model barok dengan warna kuning emas. Yang paling menarik bagiku bukan di dalam istana, tapi di altar istana. Bersemburat puluhan air mancur dari bebagai ukuran. Air mancur berteras-teras dengan banyak patung berkulit emas, bagaikan bidadari atau para dewa sedang mandi air hujan. Taman Peter ini diakui sebagai taman air mancur terindah di dunia. Airnya yang tumpah, diidentikkan sebagai air terjun yang bermuara ke laut timur atau terusan Finlandia. Karena kegilaan Peter Agung terhadap air, sehingga pernah taman luas itu terendam air. Istana mewah ini dibangun antara tahun 1714-1721 oleh Arsitek Prancis Jean Baptiste Le Blond. Kala itu Peter Agung kagum dengan istana Versaille dan menirunya menjadi „Versaille ala Rusia“. Kemudian di bawah kekuasaan Elisabeth, seorang kaisar perempuan, didirikan lagi istana musim dingin dengan arsitek berdarah Itali-Rusia Bartolomeo Rastelli. Aku dan istri menjelahi taman yang luas dan tampak beberapa pohon dibentuk kotak dengan guntingan daun-daun bak kubus mirip di istana Versaille di Prancis. Kami berjalan sampai di mulut pantai, anginnya kencang bercampur udara dingin.

Setelah itu kami bersama rombongan dengan bis menuju ke istana musim dingin. Saat itu hujan deras, untung kami hanya berada di dalam gedung istana saja. Pengunjung berjubel di pintu masuk, suara ramai berhamburan. Olga pemandu kami sudah ditunggu empat mahasiswanya yang akan minta tanda tangan. Olga, disamping sebagai pemandu di musim panas, dia juga sebagai dosen sejarah di musim dingin pada Akademi Ilmu Kebudayaan St.Petersburg. Kami beruntung punya pemandu yang banyak tahu sejarah Rusia. Istana musim dingin ini terletak di pinggir sungai Newa. Di istana ini tempat tinggal para kaisar, dari Peter Agung sampai Nikolaus II. Ketika Lenin kembali ke St.Petersburg dari eksilnya di Switzerland. Lenin berhasil memobilisir massa dari kalangan buruh, tani, seniman dan tentara. Pada revolusi Boljewik bulan Oktober 1917 berhasil menangkap Nikolaus II beserta keluarganya di istana musim dingin ini. Kemudian Nikalaus II beserta keluarganya dibawa ke penjara Sibiria dan meninggal di sana. Sampai sekarang istana musim dingin ini dimiliki negara dan tak ada seorangpun keluarga kaisar yang menempati. Ada ribuan ruangan yang tak mungkin bisa dikunjungi dalam sehari. Ada sebuah ruangan besar yang dulu dipakai untuk rapat guna membentuk pemerintahan darurat Soviet. Ada sebuah ruangan lagi yang berisi 300 lukisan foto para tentara di saat perang melawan Napoleon. Sedang ruangan yang lain ada yang digunakan sebagai kumpulan lukisan dari berbagai pelukis dunia.

Dari sini rombongan kami melanjutkan perjalanan ke sebuah kathedral Isaak. Sebuah kathedral yang dibangun menelan waktu 40 tahun (1818-1858). Keseluruhan ornamen dan arsitekturnya memerlukan 100 kilogram emas. Kubahnya besar berwarna kuning emas. Konon kathedral ini bisa menampung 14.000 umat. Menurut Olga, kathedral megah ini pernah akan dibeli oleh Amerika. Sebagai imbalannya, Amerika bersedia mengaspal seluruh jalan-jalan di kota St.Petersburg. Tak jauh dari kathedral Isaak, Olga menerangkan, kalau di sebelah kiri ada rumah berwarna jambon, di jalan Morsicaja no: 47 adalah rumah Vladimir Nabakov. Nabakov penulis novel terkenal berjudul „Lolita“ itu kelahiran St.Petersburg dan bereksil ke Inggris setelah meletus revolusi Oktober. Dia belajar sastra Rusia dan Prancis di Cambridge antara tahun 1919-1922. Kemudian dia berpindah ke Berlin tahun 1922-1937. Di sini dia bertemu istrinya bernama Vera. Karya pertama Nabakov menggunakan speudonim W.Sirin. Karena desakan tentara Nazi, tahun 1937 dia dan keluarganya berpindah lagi ke Prancis selatan dan Paris hingga tahun 1940. Setelah itu Nabakov menjadi dosen di Universitas Cornell, Ithaca. Sejak tahun 1961 dia sekeluarga menetap di sebuah kamar suite Palace Hotel kota Montreux, Switzerland. Tahun 1977 dia meninggal di kota Lausanne.

Sore hari kami sudah berada di kapal lagi. Dan siap mengarungi lautan air menuju pulau Kishi yang jaraknya sekitar 564 kilometer arah Moskow.

 

HOME

 

(c) Sarabunis Mubarok 2004