Make your own free website on Tripod.com

 

  

          Joint #SP#

 

           

Apresiasi Puisi         Apresiasi Cerpen        Apresiasi Esei          Apresiasi Puisi 2       Apresiasi Cermin            Pers Rilis                  Kajian Sastra

SEPUTAR POSTING MILIS SP

Surat Terbuka Buat Jimmy Carter Dan William Liddle
Oleh Tangkisan Letug

KEPADA TUAN-TUAN YANG TERHORMAT, JIMMY CARTER DAN WILLIAM LIDDLE

Tuan-tuan yang terhormat, perkenankanlah hamba, tak berguna ini menyampaikan
ungkapan rasa hati.

Pertama-tama, terimalah ucapan terimakasih hamba ini, atas peran tuang-tuan dalam membantu urusan pemilihan pemimpin kami. Kehadiran tuan-tuan tampak sungguh menambah warna hajatan tahun ini. Sementara banyak para pemimpin kami tidak bisa lagi mengerti tentang demokrasi, tuan-tuan datang membawa pencerahan. Itulah yang memang menjadi kebutuhan kami. Dicerahkan dengan kehadiran tuan-tuan, untuk menyalakan kesadaran bahwa demokrasi bagi kami memang masih asing.

Pada senyatanya, demokrasi di negeri ini sering masih dipahami sebagai rebutan kursi. Dan untuk itu, yang selalu terjadi, rakyat-rakyat miskin hanya menjadi obyek provokasi atau pijakan meraih kursi. Tuan-tuan telah menunjukkan kepada kami, bahwa demokrasi kami
memang masih butuh guru-guru atau masih patut diawasi, juga oleh tuan-tuan yang kami hormati.

Memang sudah menjadi wataknya, tugas wakil-wakil kami tak pernah sungguh melaksanakan pengawasan. Oleh karena itu, demokrasi di negeri ini masih selalu butuh
tuan-tuan awasi. Untuk semua kebaikan budi tuan-tuan, hamba tak berguna ini menghaturkan seribu terimakasih. Apakah yang sepantasnya bisa kami berikan kembali
untuk membalas budi baik tuan-tuan yang kami hormati?

Tuan-tuan yang baik budi, sungguh berbahagialah seandainya tuan-tuan sudi pula terus mendampingi kami, bahkan ikut pula mengawasi dengan lebih jeli lagi, bagaimana uang-uang negara kami telah dihamburkan menjadi rebutan para petinggi negeri. Sebab, apalah
artinya demokrasi bila korupsi dibiarkan merajalela begini. Itulah barangkali yang jauh lebih membutuhkan pengawasan tuan-tuan. Jangan-jangan, bantuan dollar dari negeri tuan-tuan, juga disambut dengan pesta-pora korupsi di negeri ini.

Sahaya, hamba seorang diri ini, tahu apalah tuan-tuan. Sahaya, warga negeri ini, hanya mampu melihat apa yang tampak di depan mata, apa yang terdengar di depan telinga. Sorak-sorai demokrasi negeri ini memang terdengar meriahnya. Milyaran rupiah hanya sekedar habis di kerumunan massa mendengar pidato para kandidat pemimpinnya. Setelah itu, orang kembali kepada kemiskinannnya.

Di tengah kepolosan banyak warga negeri ini, juga ketulusan menyambut tuan-tuan sebagai tamu-tamu istimewa, bermilyar-milyar uang rupiah ludes entah untuk apa saja. Padahal, ribuan pengungsi negeri ini banyak menangis di tenda-tenda. Padahal, para petani gula masih tak mampu meningkatkan pendapatannya.Padahal, rakyat biasa di luar Jawa masih banyak
membutuhkan beaya pendidikan untuk anak-anaknya. Bermilyar-milyar rupiah dan berjuta-juta dollar yang mengalir sudah, seakan hanyalah awan lewat di angkasa tanpa mendatangkan hujan berkah bagi mereka. Tetapi hingar-bingar pemilu demi demokrasi yang tuan-tuan ajarkan kepada kami, seakan telah melupakan nasib mereka. Terimakasih untuk kehadiran tuan-tuan, seakan semakin menjelaskan kontras kenyataan itu. Kehadiran tuan-tuan di negeri ini, telah memberikan kejelasan apa artinya demokrasi yang tuan ajarkan bagi kami.

Tuan Jimmy Carter dan William Liddle yang baik hati, peran tuan-tuan dalam mencoba mendorong demokrasi di negeri ini tampak istimewa, khususnya di hari-hari pencoblosan yang masih akan berlangsung ini. Bolehkah sahaya hamba yang tak berguna ini mengusulkan, agar tuan-tuan diangkat menjadi warga kehormatan negeri ini? Bahkan tidak hanya berhenti di situ, sahaya, warga biasa negeri ini, mengusulkan untuk mengangkat tuan-tuan menjadi Bapak-bapak Demokrasi atau Bapak-bapak Pemilu 2004 bagi negeri ini. Sebagaimana
dulu Bapak kita Soeharto diangkat sebagai Bapak Pembangunan karena beliau telah memberikan sumbangan besarnya dalam membangun negeri ini, hingga kita sampai menikmati keadaan sekarang ini, begitu pulalah tampaknya tuan-tuan pantas untuk menjadi Bapak-Bapak Pemilu 2004 untuk Indonesia ini. Itulah sekedar usulan hamba tak berguna ini, warga negara biasa yang tidak tahu tentang demokrasi yang sebenarnya.

Tuan-tuan yang terhormat, itulah ungkapan perasaan sahaya, diri tak berharga dan tak tahu adat, yang telah berani menuliskan surat ke publik ini. Maafkanlah bila ada kata-kata dan ungkapan di sini yang tidak berkenan. Berlonggarlah hati untuk menerima surat ini.

Sekali lagi, tuan-tuan yang sahaya hormati, terimakasih atas jerih payah dan upaya membantu negeri kami.

Salam dari sahaya tak berguna ini,
10 Juli 2004
Tangkisan Letug

 

HOME

 

(c) Sarabunis Mubarok 2004