Make your own free website on Tripod.com

 

  

          Joint #SP#

 

           

Apresiasi Puisi         Apresiasi Cerpen        Apresiasi Esei          Apresiasi Puisi 2       Apresiasi Cermin            Pers Rilis                  Kajian Sastra

SEPUTAR POSTING MILIS SP

OBROLAN MALAM
(Ingat Kampunghalaman - Keluang - Kalong)
Oleh Sobron Aidit

Ketika senja mau memasuki rembang petang, saya duduk di depan jendela kamar saya. Saya lihat dan memperhatian begitu banyak burung-burung. Ada burung-gereja - ada merpati - ada balam - ada tekukur - ada jalak-kecil-berbulu mengkilat dan banyak lagi. Mereka ribut berkicau, tampaknya akan mengakhiri tugas siang-hari-itu. Dan kini mereka siap-siap pulang ke sarang - buat istirahat - mungkin juga tidur seperti kita. Hanya apa yang saya katakan senja ketika itu, sebenarnya sudah jam 21.30. Ini musimpanas - jadi sampai jam 22.00 masih ada bias caya mentari. Musimdingin - pada jam 17.00 sudah gelap dan lampu-lampu jalanan sudah terpasang. Ya, begitulah negeri empatmusim.

Kalau saya di kampunghalaman saya di Pangkallalalang Tanjungpandan - Belitung, katika senja begini, banyak sekali beterbangan Keluang - atau Kalong kata orang di Jawa. Mereka berombongan banyak sekali mencari tempat hinggapan di pohon yang tinggi sekali. Di kampung kami, tidak sedikit pohon
yang tingginya belasan meter sampai puluhan meter. Kalong sangat suka hinggap di pohonyang meranggas, yang agak botak yang hanya ada dahan dan rantingnya yang tak berdaun. Biasanya di pohon durian yang tak berbuah - yang sudah tua tetapi belum mati. Dan kalau rombongan kalong itu banyak dan banyak sekali, dia bisa ratusan bahkan ribuan jumlahnya. Sekali mereka serentak terbang, berbunyi menderu bagaikan deru mesin terbang. Dan langit menghitam, dan lalu suasana alam sekitar menjadi sunyi. Tetapi sebaliknya pabila mereka ramai hinggap, sebelum malam - maka bunyi-bunyian
kwek-kwek-kuik bagaikan sedikit mirip bunyi burung elang, sangat ramai.

Dulu ketika penjajahan Jepang, banyak sekali serdadu Jepang yang memburunya - menembakinya. Katanya daging kalong enak sekali. Penduduk kampung kamu adalah Islam yang soleh - jadi tentu saja tak seorangpun mau makan daging kalong. Kecuali yang beragama lain dari Islam - termasuk penduduk Cina misalnya - ada juga yang mau makan daging kalong. Kalong itu jauh lebih besar dari kelelawar, tapi masihsejenis. Hanya kelelawar biasanya hinggap di banyak pohon pisang atau masuk ke dalam lingkaran daun pisang yang belum mengembang pelepahnya. Ada yang dalam gua - lobang - urung-urung - dalam
tanah yang ada lobang besarnya. Ada juga yang hinggap di banyak pohon. Tetapi kalong tak pernah hinggap dan bersarang di lobanglobang dan gua-gua. Kalong biasanya akan hinggapdi pohon yang tinggi sekali.

Kalong makan buah-buahan - termasuk yang berumbi - ada seratnya, misalnya kelapa, juga jambu-bol - jambu-air, juga gayam. Saya selama di Jawa tak pernah melihat pohon gayam. Gayam adalah buah berserat. Enak sekali dimakan. Biasanya di rebus atau digoreng. Nama latinnya adalah Inocorpus edulis
FORST. Orang yang suka makan daging kalong, biasanya menembaknya dengan senapang berkaliber 5 setengah. Dengan kaliber 4 setengah, kalong tidak mati. Juga dengan senapang cess  yang pelurunya pakai kip - jadi meledak - ada daya dorong belerangnya. Dengan senapang cess, kalau kena kepala orang - orangpun bisa mati! Ayah saya tak pernah mau menembak kalong. Ayah selalu menembak yang hasil buruannya buat dimakan, misalnya rusa - kijang - pelanduk dan burung-burung. Menembak pelanduk dan burung, selalu dengan senapang bermimis kaliber 5 setengah. Saya ingat benarmimis yang bagus yalah yang bermerek "diabolo". Ini tahun 1942.

Karena itu kalau ayah berburu dengan senapang 5 setengah - selalu menembak burung-punai - balam - tekukur dan pergam. Pergam itu sejenis tekukur besar sekali. Nama latinnya Carpophaga aenea. Dagingnya enak sekali. Biasanya ibu saya akan memasaknya secara gulai atau balado-burung. Orang-orang yang suka merokok dan perokok berat, akan selalu mencari tulang kalong atau gigi
duyung buat dijadikan pipa - pipa buat merokok. Katanya pipa rokok dari tulang kalong dan gigi duyung sangat bagus - tahan - dan selalu sedap isapan rokoknya. Saya tak pernah tahu - karena saya pada umumnya bukanlah perokok. Saya pernah merokok, tetapi hanya merokok secara pergaulan - ikut
ramai-ramai dengan teman. Katanya kalong yang dulu begitu banyak di kampunghalaman saya, kini tak ada lagi. Rombongan kalong yang dulu itu, sudah pindah secara migrasi setempat di pulau-pulau terpencil dan pulau-pulau kecil yang tak didiami orang. Banyak sekali pulau-pulau kecil yang bahkan tak bernama di sekitar pulauBelitung kami. Ini namanya Pulau Tak Bertuan. Yang ketika musim durian - banyak sekali - berperahu-perahu para nelayan berjualan durian - yang bisa mereka ambil dan kumpulkan dari banyak pulau-pulau kecil yang tak bertuan itu. Lalu mereka jual ke kota - di Tanjungpandan - ibukota pulau kami. Mengingat ini semua, adakalanya saya sangat rindu mau melihat dan mendengar bunyi kalong - keluang dan bunyi elang di kampung kami. Betapa sedap telinga mendengarnya - betapa sedap mata memandinginya.-

Paris,-  1 juli 04,-

 

HOME

 

(c) Sarabunis Mubarok 2004