Make your own free website on Tripod.com

 

  

          Joint #SP#

 

           

Apresiasi Puisi         Apresiasi Cerpen        Apresiasi Esei          Apresiasi Puisi 2       Apresiasi Cermin            Pers Rilis                  Kajian Sastra

TENTANG ASAL-MUASAL #SP#

MEMBEBASKAN SASTRA-PEMBEBASAN
Oleh Yahya T.P.

Belum genap tiga bulan sudah tercatat 221 alamat e-mail yang menjadi anggota, dan lebih dari 4300 posting di milis Sastra Pembebasan (sastra-pembebasan@yahoogroups.com) ini. Sekalipun angka seringkali tidak bersesuaian dengan kualitas, tetapi pencapaian milis yang kelahirannya diwartakan tanggal 22 Desember 2003 pk. 05.19 WIB ini menarik untuk diamati. Tulisan ini dimaksudkan sebagai rekaman kesan, sekaligus doa harapan agar bayi umur tiga bulan ini dikaruniai kesehatan dan keceriaan senantiasa. 

Tidak ada kekinian yang lepas sama sekali dengan masa lalu. Latar belakang kehadiran milis #SP# ini dapat dirujuk kepada protes terbuka terhadap prosedur dan birokrasi satu milis sastra yang dirasa sarat aturan, tidak memberi kebebasan posting, bahkan terkesan sok dan lamban dalam menerima anggota baru, bahkan menerapkan "litsus" segala. Mungkin bukan suatu kebetulan bahwa protes terbuka ini balas-berbalas dipostingkan ke milis Koran-Sastra, milis terbuka yang dimoderatori oleh Adi Kriting yang sudah berkembang lebih dahulu. Wacana pembebasan sastra yang diusung Sarabunis dan Heri Latief inilah yang akhirnya membidani kelahiran milis Sastra-Pembebasan ini.

"Siapa bisa menolak ajakan orang kayak Heri Latief", demikian tulis Eep Saifulloh Fatah, yang bergabung sejak awal kelahiran. Sebagai penikmat puisi sekedarnya, saya sendiri juga menjadikan nama-nama bidan milis Sastra-Pembebasan ini sebagai jaminan, bahwa misi pembebasannya benar, bukan pura-pura. Siapa pula tidak ingin dibebaskan? Siapa pula enggan untuk ikut serta dalam misi pembebasan? Tetapi ah, apa arti sebuah nama? 
Posting-posting awal jelas menunjukkan betapa sekalipun banyak yang "terpanggil" baik lewat penawaran umum di milis-milis sastra yang sudah ada, tetapi ternyata hanya sedikit yang "terpilih" untuk merespon dengan mendaftar jadi anggota. Pengalaman beberapa anggota milis ketika membuat milis baru misal "milis apresiasi novel" menunjukkan bahwa menghidupkan milis dan apalagi memperkembangkannya adalah tahapan kesukaran yang membutuhkan tenaga ekstra untuk melewatinya. Terjadi juga "hangat-hangat tahi ayam", semula seperti jamur di musim hujan, tetapi sebentar tidak dapat bertahan. Kang Bondet di awal juga bersalam, "Ada apa rame-rame menepi dari sibuk arus bengawan, apakah hendak mendirikan padepokan agar suara dengungan terdengar menggelegar?" 

Apapun latar belakang masing-masing bergabung menjadi warga milis ini, yang pasti terjadi adalah sambutan penerimaan, harapan yang nyata ditantang untuk diwujudnyatakan. Ada energi hangat dari Tasik, menyeberang ke Amsterdam, belok ke Inggris, Swedia, Swiss, Mesir, melintas benua Amerika, Jepang, Hongkong, Malaysia, akhirnya merangkum sastra kota-kota dan pulau-pulau Nusantara, dan jadilah sekarang komunitas yang sedang terus berproses memaknai jati diri bersama.

Tak ada hasil tanpa keberanian membayar harga. Resiko yang dipertaruhkan milis #SP# adalah resiko untuk menyatakan diri sebagai milis terbuka, tanpa sensor, tanpa moderator. Dengan demikian cukup tersedia ruang untuk membangun kepercayaan, bahwa setiap anggota dapat memberikan sumbangan dan ikut serta membangun kebersamaan tanpa kecuali. Akhirnya benar terjadi adalah setiap member sekaligus jadi owner, merasa memiliki, karena itu juga bertindak sayang. Otomatis terjadi saling menyambut, mengomentari, dan berbagi. Pengalaman saling percaya yang membebaskan terjadi ketika kekuatiran-kekuatiran yang pernah melintas ternyata tetap hanya tinggal masalah angan, tak pernah hadir dalam kenyataan. Bahkan masalah-masalah yang ada ternyata menjadi batu ujian sesungguhnya, yang diperlukan agar milis ini tidak mandeg buntu dan berpuas diri, tetapi tetap mengupayakan diri untuk maju.

Percobaan yang berlanjut untuk semakin bersekutu dan memperlengkapi satu sama lain sudah dilakukan lewat hajat apresiasi puisi, cerpen dan esei. Jumlah 46 puisi dan 25 cerpen sepanjang bulan Januari dan Pebruari, dan belasan (semoga bertambah jadi puluhan) esei yang masuk dalam apresiasi #SP# bulan Maret 2004 ini masih terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah member yang diharapkan untuk ikut serta. Tetapi proses membangun kesepakatan bersama, tentang hajat yang akan dikerjakan, kriteria karya, kebebasan untuk menjadi peserta, bahkan juga undangan terbuka kepada semua untuk menjadi juri dan memberikan komentar serta penilaian adalah pencapaian yang tidak bisa dipaksakan oleh siapapun, dan ini bila boleh dikatakan adalah catatan prestasi bersama milis ini. 

Milis #SP# menjadi ajang bagi semua anggota, baik yang sekedar iseng ingin bermain, maupun yang serius bermain-main sejak awal, terjadilah bahwa main-main jadi sungguhan. Pilihan 10 besar puisi, cerpen, dan sebentar lagi 10 besar esei yang rencana dalam bulan April 2004 ini akan dibukukan menjadi bukti bahwa membangun komunitas di dunia maya adalah juga sisi lain dari membangun komunitas di dunia "nyata". Dana yang dihimpun atas dasar sukasamasuka dan rela untuk proyek penerbitan buku milis #SP# ini memang belum seberapa, tetapi mengapa tidak untuk berjalan terlebih dahulu dengan apa yang sudah ada, toh yang belum ada bisa diusahakan. Dan tak kalah penting untuk dicatat adalah jaringan pertemanan antar anggota yang terjalin, lewat terowongan-terowongan e-mail japri, ataupun kesan pesan baik yang sudah diungkapkan ke jalur umum maupun dalam chatting di labirin ruang pribadi. Ini semua akhirnya menjadi hasil sampingan yang utama juga. 

Asyik untuk berpikir, bila nanti ada kesempatan pergi ke Babarsari bisa ketemu Gusnoy, ke Surabaya menghubungi Budiani, ke Salatiga ada Mira La_luta, ke Jakarta dan ke tempat lain ada lagi lainnya. Tetapi lebih dari sekedar angan sekarang lewat milis ini sudah terjadi pertemuan setiap kali, yang tua yang muda, pemuka dan pemula, asyiknya saling berbagi dan melengkapi. Entah yang empunya nama tahu atau tidak, tetapi mengakulah awak bahwa di milis ini ada rasa bangga bisa bersama dengan Bang Mawi si Dewa Pantun, Tangkisan Letug Suara Nurani Murni, Ben Abel, Titon, Mega, Saut, ... aduh jumlah kalian sudah ratusan, maaf sungguh bukan bermaksud untuk abai tidak menuliskannya! 

Setiap kehidupan selalu membawa bebannya sendiri. Kehadiran milis #SP# di antara banyak milis sastra-puisi-sukasuka berbahasa Indonesia yang sudah ada sebelumnya juga mengemban misi sastra-pembebasan yang sarat nilai. Mulai dari sastrasukasuka untuk kemudian kepada pemerdekaan hidup bersama yang lebih menyeluruh dan utuh, melawan penindasan. Pencapaian tiga bulan ini sudah menghadirkan pemaknaan diri yang masih terus akan berproses. Sama seperti kehidupan kita juga, tak patut berhenti sebelum mati. Membebaskan milis #SP# dari kemelekatan-kemelekatan yang tidak perlu dikenakan pun agar semakin bisa memaknai nama sastra-pembebasan yang disandangnya adalah tantangan bagi semua, dan langkah-langkah ke depan tetap menunggu kesepakatan dan pembicaraan semua anggota bersama. Semoga tulisan ini dapat menjadi sumbangan bagi kita semua, terus tetap berjaga, membebaskan milis kita.

Purwantoro,
13 Maret 2004

 

HOME

 

(c) Sarabunis Mubarok 2004